Semasa hidupnya, pria yang aktif mengelola karang di Desa Pemuteran yang juga sekaligus pendiri Yayasan Karang Lestari ini dikenal sebagai sosok yang sangat menginspirasi. Terlebih sebagai penggiat pariwisata, ia tak mau hanya berorientasi pada keuntungan materiil semata, namun ia ingin membangun Bali dengan pondasi ecotourism.

I Gusti Agung Bagus Mantra, 44, anak kedua dari Agung Prana menuturkan bahwa sebelum sang ayah berpulang, Agung Prana sempat dirawat di Wing Amerta RS Sanglah selama tiga hari akibat kondisinya yang drop. Karena disamping memiliki riwayat Diabetes,  sang ayah juga sempat divonis menderita kanker getah bening meskipun sudah sempat dinyatakan sembuh karena sel-sel kankernya sudah tidak tumbuh lagi. “Kalau menderita diabetes sudah sejak tahun 2002, kalau kanker sudah dari tahun 2009,” ungkapnya ditemui di rumah duka di Jero Gede Bakungan, Banjar Umabian, Desa Peken Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan, Minggu kemarin  (8/7).

Hanya saja, ketika kondisi tubuhnya sedang baik, Agung Prana yang juga mantan Ketua ASITA tersebut memang tidak bisa diam, ada saja aktifitas yang dilakukannya dan tentunya tidak jauh-jauh dari kegiatan di Yayasan Karang Lestari atau berbagai kegiatan lainnya yang seringkali melibatkannya. Karena sebagai tokoh pariwisata, ayah tiga orang anak ini tidak pernah pelit ilmu. “Bapak senang sharing akan apa yang sudah dilakukannya, ada yang memberikan masukan dan saran, karena beliau ingin bisa bergerak bersama, sehingga sering juga bapak diundang jadi pembicara diberbagai acara,” imbuhnya.

Ia menambahkan, sang ayah selalu memiliki cita-cita agar ecotourism menjadi pondasi pariwisata di Bali. Dimana pariwisata yang ada dapat menggabungkan budaya dan konservasi lingkungan serta melibatkan masyarakat sehingga manfaatnya turut dirasakan masyarakat. “Dan bapak masih ingin terus menyempurnakan destinasi wisata di Desa Pemuteran terutama dalam hal infrastruktur,” tegas Mantra.

Selain sebagai tokoh pionir pariwisata, di dalam keluarga Agung Prana merupakan sosok ayah yang penyayang dan life mentor bagi anak-anaknya. Sehingga kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya. Agung Prana meninggalkan seorang istri bernama I Gusti Ayu Arini dan tiga orang anak, yakni dr. I Gusti Agung Desi Partiwi, I Gusti Agung Bagus Mantra, dan I Gusti Agung Ngurah Kertiyasa, dan meninggalkan 10 orang cucu. “Beliau adalah life mentor bagi kami, juga maha guru, karena beliau selalu membuat saya kagum akan konsep-konsep yang dibuat dan juga dilaksanakan, selalu fokus dengan apa dikerjakan, dan tidak pernah mengeluh,” sambungnya.

Tak heran jika selama hidupnya, Agung Prana telah meraih berbagai penghargaan, diantaranya adalah The Equator Prize dan UNDP Special Award dari United Nations Development Programmed dan yang terakhir Yayasan Karang Lestari masuk nominasi penghargaan dunia, WTC Tourism For Tomorrow Kategori Inovasi pada lingkungan mewakili Indonesia untuk presentasi mengenai destinasi wisata Teluk Pemuteran dan Bio Rocknya di Argentina dan diwakili oleh Agung Mantra sendiri. “Sehingga kini bagaimana kami bisa melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh bapak,” pungkasnya.

Ditambahkan oleh anak pertama Agung Prana, dr. I Gusti Agung Desi Partiwi, kondisi sang ayah sejatinya sudah sempat membaik dihari kedua dirawat di Wings Amerta Sanglah. Namun pada hari ketiga kondisinya kembali drop, bahkan tidak mau makan. “Tetapi saya tetap berikan semangat kepada bapak agar bertahan, tetapi mungkin memang sudah jalannya,” ungkapnya.

Bahkan di detik-detik terakhirnya, sang ayah masih sempat menanyakan kondisi cucu-cucunya. Dan menanyakan perihal keberangkatan Partiwi ke Manado untuk menerima penghargaan dari Presiden RI atas keaktifannya dibidang KB, yang ia tunda untuk mendampingi sang ayah. Serta beberapa kali sempat mengatakan pada dirinya bahwa sang ayah akan pergi meninggalkannya. “Beberapa kali sempat bilang kalau beliau mau pergi, sehingga saya sampaikan kepada adik saya, yang ternyata juga sempat disampaikan seperti itu kalau beliau mau mepamit, mungkin itu pertanda,” tandasnya.

Jenazah Agung Prana saat ini diistirahatkan sementara dirumah duka di Jero Gede Bakungan, Banjar Umabian, Desa Peken Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan. Prosesi Nyiramin akan dilakukan tanggal 12 Juli 2018 mendatang bertepatan dengan tanggal lahir Agung Prana. Kemudian Pabersihan dilakukan tanggal 20 Juli 2018 dan Plebon dilakukan tanggal 21 Juli 2018 di Setra Desa Adat Umabian. 

(bx/ras/yes/JPR)

Source link