Kanit Reskrim Polsek Gubeng Ipda Djoko Susanto menjelaskan penangkapan kedua tersangka dilakukan pada Minggu (10/12). Mereka ditangkap di pintu masuk Jembatan Suramadu saat akan menjual motor curian ke Madura. Mereka dihentikan setelah polisi yang saat itu melakukan penyekatan mendapati nopol motor yang mereka kendarai dicat hitam, hingga nopol terlihat buram. 

“Setelah itu, kami mengecek nopol tersebut lebih dekat. Saat itulah kami mengetahui jika motor tersebut dilaporkan hilang tiga hari sebelum mereka kami tangkap (7/12),” ungkap Ipda Djoko, Selasa (19/12). 

Djoko menambahkan motor Honda Beat warna merah putih tersebut bernopol L 3327 PT. Motor milik Ilyas Salam,31, warga Jalan Kapasari Pendukuhan 7 itu hilang setelah diparkir di Jalan Ngaglik, Surabaya. Setelah itu, korban melaporkan kasus tersebut ke Polsek Simokerto.

“Setelah mendapati hal itu, kami mengamankan dua tersangka.  Setelah kami lakukan pemeriksaan, keduanya merupakan spesialis curanmor, “ terangnya. 

Komplotan yang diotaki Khoirul tersebut tercatat sudah melakukan aksinya di tujuh lokasi di Surabaya. Di antaranya, di Jalan Sukolilo, Juanda, Kenjeran dua kali, Kapas Krampung, Simo Jawar, dan terakhir di Jalan Ngaglik. Dalam beraksi, kedua tersangka berbagi tugas. 

“Satu tersangka sebagai pemetik atau eksekutor dan yang lain bertugas sebagai joki atau mengawasi lokasi. Hanya saja masing-masing peran dilakukan bergantian,” lanjut Djoko. 

Sementara modus yang dilakukan oleh tersangka ialah dengan cara berkeliling berbocengan mengendarai  motor Honda Vario nopol L 3837 QX untuk mencari sasaran. Targetnya adalah, motor yang diparkir di teras rumah dan juga di pinggir jalan.

“Setelah mendapatkan sasaran, mereka lantas menggunakan kunci T untuk merusak kunci kontak motor korban. Setelah berhasil, mereka kabur dengan motor curiannya tersebut,” tandas Djoko. 

Dari penangkapan tersebut  polisi mengamankan satu unit motor yang digunakan sebagai sarana pelaku, uang Rp 400 ribu hasil penjualan motor dan juga kunci T.

Khoirul mengaku nekat menjadi pelaku curanmor karena butuh uang untuk membeli pakaian baru. Sisannya ia gunakan bersenang-senang dengan Maskur. Sebab upah hasil bekerja sebagai tukang rumput tak seberapa dan hanya cukup untuk membeli makan dan rokok saja. “Sudah lama saya tidak membeli pakaian bagus,” ungkapnya. (yua/no)

(sb/yua/jek/JPR)