JOMBANG – Puluhan petani tebu menggelar aksi demonstrasi di depan pintu PG Tjukir, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kamis (24/8). Mereka memprotes kebijakan pemerintah menetapkan pemberlakukan PPN 10 persen termasuk penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kami minta batasi rafinasi, hapuskan PPN 10 persen, HET jangan dibatasi,” terang Muhajir, perwakikan petani.
Pantauan di lapangan, sekitar pukul 08.00, puluhan petani memulai aksinya dengan memarkir puluhan truknya berderet di pinggir jalan.

Mereka membentangkan sejumlah banner berisi tuntutan ke pemerintah terkait persoalan yang dihadapinya. Sejurus kemudian, massa mulai berusaha merangsek masuk sambil menyampaikan orasinya. Sayang upaya massa aksi bertemu jajaran manajemen PG Tjukir terhalangi puluhan petugas satpol PP yang sudah siaga sejak pagi menjaga pintu gerbang. Tak pelak ketegangan pun tak bisa terhindarkan, terlebih setelah massa aksi terus bersikukuh meminta masuk area pabrik. Setelah aksi saling dorong tersebut, ketegangan mulai cair. Sambil meluapkan kekecewaannya, para demostran mulai membubarkan diri.

Menurut Muhajir, perberlakukan PPN 10 persen dirasa sangat merugikan petani tebu, padahal petani juga terbebani dengan biaya produksi yang tinggi. ” Semisal gula harga Rp 10 ribu, kalau dipotong PPN 10 persen, kita terima Rp 9 ribu, sekarang biaya pengolahan  mahal sekali, pupuk juga sulit,” bebernya.
Dirinya juga mendesak pemerintah menghapus pemberlakukan HET. “HET jangan dibatasi, biarkan dilepas apa kata pasar,” lanjutnya. Jika tuntutannya tidak dipenuhi, ribuan petani tebu di Jombang siap berdemo ke Jakarta. “Kita akan berangkat ke Jakarta, akan mogok, tidak akan mengirim tebu ke pabrik sampai tuntutan dipenuhi,” pungkasnya.

Source link