Demikian pesan Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pamekasan KH Muid Khozin kemarin (3/1). Menurut dia, agama dan politik adalah dua hal berbeda. Karena itu, masyarakat harus menghindari campur aduk kedua perbedaan itu.

Jika isu SARA dicampur aduk dengan politik, bisa berbahaya. Terutama, berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. ”Jangan campur aduk agama dan politik. Kalau dicampur aduk, bisa berbahaya,” imbaunya.

Kiai Muid meminta masyarakat cerdas memilah informasi. Namun, tidak menutup kemungkinan, ada oknum yang mencoba terus memecah belah persatuan bangsa dengan isu SARA dalam kontestasi politik.

Isu-isu seperti itu harus dihindari. Kontestasi politik harus diwarnai dengan kesantunan dan kebijaksanaan. ”Islam memang mengajarkan cara berpolitik yang baik. Tetapi jangan sampai campur aduk. Agama ya agama, politik ya politik,” pesannya.

Pria yang menjabat Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Pamekasan itu berharap, mengawali 2018, masyarakat melaksanakan kegiatan positif. Beda dalam pandangan politik, tidak menjadi persoalan.

Asal, lanjut Kia Muid, pasca pesta demokrasi lima tahunan itu, masyarakat kembali bersatu. Kemudian, bersama membangun Pamekasan lebih baik. ”Pesta demokrasi hanya sementara. Jangan sampai terjadi perpecahan,” katanya.

Untuk diketahui, 27 Juni mendatang, Pamekasan bakal menggelar pilkada. Dua kandidat pasangan calon (paslon) santer dikabarkan akan bertarung. Yakni, Kholilurrahman-Fathorrahman dan Baddrut Tamam-Raja’e.

(mr/pen/onk/bas/JPR)