Di rumah yang terletak hampir ujung Kecamatan Mojo, tepatnya di Dusun/Desa Ponggok, tak sampai 140 sentimeter (cm) tingginya. Seorang perempuan memakai celana pendek dan kaus tak berlengan, berjalan keluar melewati pintu rumah.

Muncul dari dalam, perawakannya langsung terlihat ketika terkena sinar mentari sore sekitar pukul 16.00 WIB, Kamis itu (2/11). Rambut putihnya seakan bercahaya terkena sinar. Guratan di wajahnya melambangkan usia yang tak muda lagi. Dialah Suratmi.

Tak berjalan sendiri, seorang bocah laki-laki berbaju kuning manja di gendongannya. Setengah badannya, tubuh bocah tersebut. Langkah kaki pelan berhati-hati. “Waah siapa ini ayo salim ayo salim,” sambut nenek Suratmi meminta anak berbaju kuning di gendongannya agar menyalami Jawa Pos Radar Kediri.

Sambutan tersebut kembali memberi petunjuk bahwa umur Suratmi tak muda lagi. Pasalnya, saat membuka mulut dan berucap, terlihat giginya tinggal satu.

Siapa sangka jika nenek Suratmi merawat dua cucunya yang masih kecil-kecil itu sendirian. “Ngeneki lo Mbak lek ngalem ra gelem medun (begini ini loh Mbak kalau manja tak mau turun dari gendongan),” ujar nenek 70 tahun itu.

Bocah tersebut adalah cucu kedua Suratmi. Namanya, Agil Saputra. Umurnya baru 2,5 tahun. Saat Agil, satu cucu lainnya duduk-duduk di depan rumah. Rambut panjang lurus menghiasi kepala bocah umur 5 tahun itu. “Namanya Yuni Agista ini, sudah TK,” kata Suratmi. Dua bocah tersebut terlihat malu-malu, diam, dan hanya menuruti apa kata neneknya. 

Di samping pintu rumah terdapat segombyok dedaunan yang diikat dan diletakkan di atas kursi kayu. Ombyokan daun dan rumput itu ternyata buah tangan Suratmi pada pagi harinya. “Kalau pagi ya ngarit Mbak buat pakan wedus (kambing),” urainya.

Ya, nenek yang gaya bicaranya tak terlihat tua sama sekali ini setiap harinya mengurus cucu dengan mencari rumput hingga mencangkul. Yuni dan Agis adalah cucu dari anak kedua Suratmi, Siti Nurhalimah.

Dua bocah tersebut ditinggal ayahnya entah ke mana sejak lebih dari satu tahun lalu. Sedangkan Siti sendiri bekerja menjadi buruh di warung yang gajinya tak seberapa. “Kerja Mbak, nggak pulang,” ungkap Suratmi.

Karena itulah, nenek asli Ponggok ini harus ikut mencari uang untuk mencukupi hidupnya juga cucunya. Setiap hari, ia mencari rumput untuk dua kambing bantuan pemerintah. Namun sebelum itu, Suratmi menyempatkan diri membantu Yuni bersiap ke sekolah. Mulai dari membantu berpakaian, menyiapkan masakan, hingga mengantar ke TK. Jaraknya beberapa meter dari rumah. “Kalau ngantar ini (Yuni) yang kecil maunya juga ikut,” tuturnya.

Setelah mengantar Yuni, Suratmi pergi mencari rumput. Agil dititipkan pada Muhamad Nasir, 30, anak sulungnya. Suratmi terbiasa mencari dan memikul sendiri rumput yang dicarinya. Padahal, dari tumpukan rumput di depan rumah saja beratnya bisa lebih dari 15 kilogram (kg).

Selain mengandalkan hasil merawat kambing, Suratmi kerap mencangkul lahan kosong di depan rumahnya untuk ditanami. “Ini pas nggak tanam Mbak, kalau biasanya ya padi ya jagung. Apa sajalah yang bisa ditanam,” ungkapnya.

Lahan tersebut tak terlalu besar, hanya sekitaran rumah saja. “Ya cangkul sendiri, mau siapa lagi Mbak, kulo niku pokoke lak mboten nyolong lak mboten nopo-nopo nggih,” ujarnya sambil tertawa.

Suratmi telah lama ditinggal suaminya. Ia mengaku, tak keberatan merawat cucunya sendirian. Meski sang cucu akhirnya tak secara penuh mendapat kasih sayang dari orang tua, dua anak tersebut tak terlihat kekurangan kasih sayang.

Keduanya selalu nempel ke nenek mereka ketika sang nenek diajak bicara. Yang paling susah adalah ketika salah satu cucunya, Agil sakit. Dalam satu bulan ini, Agil sempat sakit dua kali. “Ya bingung Mbak, kadang ya minta bantuan tetangga untuk antar periksa ke dokter,” ungkap Suratmi.

Meski tinggal di lereng pegunungan, untuk urusan medis nenek ini sangat sigap. Ibu dua anak tersebut pulang tak tentu sebulan sekali, maka dari itu Suratmi pun tak bisa menggantungkan nasib cucunya. Kasih sayangnya ia berikan terus menerus. Tak pernah bersekolah, Suratmi kadang hanya menemani Yuni belajar.

(rk/yi/die/JPR)

Source link