NGULING – Jalur pantura di Pasuruan-Probolinggo, Senin (25/12) pagi sempat terputus. Itu setelah warga Dusun Gunung Bukor, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan memblokade jalur pantura tepatnya di Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Akibatnya, jalur utama Surabaya-Banyuwangi itu lumpuh total sekitar 40 menit.

Kemacetan akibat blokade tersebut sangat parah. Apalagi, volume kendaraan saat libur Natal dan tahun baru meningkat. Kondisi ini membuat aparat keamanan “kalang kabut”. Karena itu, aparat kepolisian dari Polres Pasuruan kota dan polsek jajaran dikerahkan untuk mengamankan aksi. Aparat TNI dari Kodim 0819 dan juga Koramil jajaran juga turun ke lokasi.

Ratusan warga baik dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, menyemut di jalan nasional mulai pukul 09.00. Untuk menutup jalan, warga menggunakan ban dan bambu. Warga juga membawa poster bernada penolakan pada aktivitas penambangan, pasir batu (sirtu) yang dilakukan TNI AL.

Di antara poster yang dibawa warga bertuliskan, “Tolak Penambangan”, “Potret Mini Palestina”. Aksi tersebut dilakukan, karena tambang sirtu diduga belum memiliki izin. Koordinator aksi, Eko Suyono mengungkapkan, aksi ini sebagai bentuk protes warga pada kesewenang-wenangan TNI AL dalam menguasai lahan milik warga. Sementara, warga pemilik lahan tidak mendapatkan apa-apa.

Menurutnya, lahan milik warga di Dusun Gunung Bukor, mencapai 5.010 hektare. Dari ribuan hektare ini, sekitar 7 hektare dijadikan lahan tambang sirtu. Namun, sampai saat ini, tambang sirtu ini menurut penuturan warga masih belum memiliki izin.

“Tambang sirtu ini hanya digunakan untuk kepentingan TNI saja. Tapi tidak ada dampaknya pada warga. Selain itu, kami sudah mengecek ke perizinan. Ternyata belum ada izinnya. Karena itu, kami meminta agar aktivitas tambang dihentikan,” ungkap Eko.

Melihat panjangnya kemacetan di jalur pantura, polisi kemudian membujuk warga untuk menghentikan aksi tersebut. Setelah dilakukan mediasi, akhirnya warga menyanggupi permintaan aparat keamanan. Namun, warga tetap melanjutkan aksinya. Hanya saja, mereka melanjutkan aksi protesnya itu dengan menutup lokasi tambang.

Sekitar pukul 10.00, seluruh peserta aksi tiba di lokasi tambang. Di lokasi tersebut, warga kembali menyuarakan aspirasinya. Mereka menuntut penambangan dihentikan. Saat itu, tidak ada aktivitas penambangan. Termasuk alat berat juga tidak ada. Hanya saja, sebuah gundukan yang tingginya sekitar 6 meter, jadi bukti bahwa penambangan memang dilakukan. Di lokasi tersebut, juga berdiri tenda berwarna hijau.

Aksi demonstrasi berakhir, ketika Kapolres Pasuruan Kota AKBP Rizal Martomo memastikan bahwa penambangan dihentikan. Kapolresta juga berjanji akan mengecek soal izinnya pada pemerintah daerah. “Untuk sementara kegiatan tambang dihentikan dulu, sembari kami akan mengecek soal izinnya,” jelas Rizal –sapaan akrabnya –.

Terpisah, Komandan Komando Latih Korps Marinir (Kolatmar) TNI AL Grati, Letkol Inggit, enggan memberikan komentar terkait aksi blokade warga tersebut. Ia mengungkapkan jika pihaknya akan mengadakan koordinasi secara internal.

“Memang benar jika tambang sirtu itu milik kami. Tapi maaf, untuk sementara saya tidak dapat memberikan komentar terkait aksi warga itu. Kami akan menyampaikan hal ini pada pimpinan dahulu. Baru kami akan menentukan sikap,” terangnya.

Source link