IMUNISASI: Bocah di Tulupari, Tiris ikut imunisasi masal usai ada bocah suspect difteri meninggal, Desember lalu.
(Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

KRAKSAAN – Kasus difteri di Kabupaten Probolinggo mendapatkan perhatian serius Dinkes setempat. Pasalnya, selama tahun 2017, tercatat ada 13 kasus suspect difteri. Bahkan, tiga kasus di antaranya mengakibatkan penderita meninggal dunia.

Kepala Dinkes Kabupaten Proboilnggo Shodiq Tjahjanto pun mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menolak program vaksinisasi atau imunisasi difteri. Karena imunisasi merupakan satu-satunya cara mencegah terjadinya penyebaran kasus difteri. Jika tidak, virus difteri akan lebih mudah menyerang anak-anak yang tidak pernah diimunisasi.

Shodiq mengatakan, upaya pencegahan terjadinya kasus difteri di Kabupaten Probolinggo sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh tahun sebelumnya. Yaitu, melalui pogram imunisasi di 24 kecamatan.

Tahun ini pun, pihaknya akan meningkatkan penyebaran imunisasi tersebut secara merata. Supaya, tidak ada lagi masyarakat yang terserang virus suspect difteri.

”Kami  berharap kesadaran masyarakat untuk memaksimalkan program imunisasi tersebut. Masyarakat yang memiliki bayi atau anak, harus diimunisasi. Jangan sampai ada anggapan atau ketakutan untuk imunisasi anak-anaknya,” katanya, Jumat (5/1).

Sejauh ini, dikatakan Shodiq, program imunisasi yang dicanangkan Pemkab Probolinggo terus berjalan. Dan, realisasinya pun tinggi.

Tahun 2017, target sasaran imunisasi sebanyak 17.586 jiwa. Untuk imunisasi difteri sendiri (DPTHBHib1) mencapai 91,4 persen atau 16.066 jiwa. Kemudian DPTHBHib-2 capaiannya 16.159 atau 91,9 persen dan DPTHBHib-3 realisasinya 15,923 (90,5 persen). Dan, imunisasi difteri usia 1 tahun ke atas sebanyak 13.844 jiwa atau 78,7 persen.

”Kalau dibanding tahun 2016, kasus difteri di tahun 2017 memang jauh lebih tinggi,” akunya.

(br/mie/mas/mie/JPR)

Source link