Wujudkan Sluke Niur Melambai dengan Tanam Ribuan Pohon Kelapa – Radar Kudus

Sluke negeri niur melambai. Itulah gagasan yang sedang diwujudkan oleh Marsam. Lebih dari 1.500 pohon kelapa sudah ditanam di wilayah pinggir pantai dan akan terus ditanam di beberap desa lainnya.

KHOLID HAZMI, Sluke

Sudah 35 tahun Marsam menjadi penyuluh pertanian. Tak terhitung berapa gagasannya di bidang pertanian untuk meningkatkan hasil tani masyarakat. Prestasi puncaknya, pria asal Klaten ini dinobatkan sebagai penyuluh teladan tingkat Kabupaten Rembang beberapa tahun lalu.

Sayangnya di tingkat provinsi, prestasi itu tak bisa diulang oleh Marsam. Namanya berada di peringkat empat. Ada beberapa komponen penilaian dalam menentukan penyuluh teladan.

Salah satunya penilaian atas kegiatan penyuluh di lapangan. Peningkatan produksi pertanian di wilayah tugas menjadi salah satu indikator penilaiannya. Marsam punya nilai lebih untuk hal itu.

Masa tanam padi di Sluke yang semula setahun dua kali meningkat jadi tiga kali. Secara presentase, peningkata hasil tanam itu sekitar 40 persen. Meskipun sudah meningkat, Marsam memberi edukasi ke petani agar tanah tidak hanya ditanam padi.

”Kalau padi terus, tanah tidak ada rehatnya. Maka ada demplot bawang merah. Padi, bawang merah kemudian padi lagi,” jelasnya.

Gagasan lain yang kini masih dijalankan oleh Marsam, mewujudkan citra Sluke sebagai wilayah niur melambai. Pohon kelapa dipilih Marsam untuk ditanam di wilayah pinggir pantai.

Lebih dari 1.500 pohon kelapa sudah ditanam Marsam bersama masyarakat. Penanaman dimulai tahun lalu di Pantai Nyamplung, Sluke. Ada sekitar 1.500 pohon kelapa yang ditanam di lokasi tersebut.

Kemudian tahun ini dilanjutkan dengan penanaman di beberapa desa. Yakni di Desa Leran, Jurangjero dan Bendo masing-masing seribu batang pohon kelapa. Jumlah itu belum termasuk pohon kelapa yang sebelumnya sudah ada.

”Tanaman tua sebelumnya ada di lahan seluas 12 hektar. Satu hektarnya ada sekitar seratus pohon,” katanya.

Pria kelahiran 2 Juli 1963 ini punya alasan kenapa memilih pohon kelapa untuk dikembangkan. Kelapa termasuk jenis pohon yang mudah hidup  di segala jenis tanah. Misi lain, Marsam juga ingin mengembangkan sektor wisata di Sluke.

Selain pohon kelapa, dia juga fokus pada pengembangan mangga yang kini jadi komoditas utama di Sluke. Total ada sekitar 80 ribu tanaman mangga yang ada di Sluke. Dari jumlah itu, 70 ribu diantaranya sudah menghasilkan. Sisanya masih tergolong tanaman muda dan belum berbuah.

Tanah di Sluke memang cocok untuk pengembangan tanaman mangga. Tanahnya kemerah-merahan. Mayoritas tanaman mangga berada di wilayah pegunungan. Karena mangga memang harusnya ditanam di sekitar 200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

”Sluke ini unik. 50 persen wilayahnya pantai. 50 persen lainnya pegunungan. Mangga itu perlu tanah di ketinggian. Sedangkan kelapa bisa hidup di mana saja,” pungkas pria berkumis ini.

(ks/ali/top/JPR)